🐚 Allah Ada Tanpa Tempat
AqidahAhlusunnah : Allah Ada Tanpa tempat Dan Arah (Allah Maujud Bilaa makan) wasallam, Waba’du. Allah ta’ala berfirman: Maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya)”. (Q.S. asy-Syura: 11) Makna hadits ini bahwa Allah ada pada
TikTokvideo from Fikri (@fikri_nsk): "Allah ada tanpa tempat !!! Allah bukan di langit, Allah bukan di atas Arasy, Allah bukan berada di mana-mana, Allah bukan berada di setiap tempat #fyp". Aqidah Islam: Allah ada tanpa bertempat. original sound - Fikri.
HargaAllah Ada Tanpa Tempat Murah & Berkualitas - Allah Ada Tanpa Tempat Bergaransi Resmi Gratis Ongkir ️ 2 Jam Sampai ️ Cicilan 0% ️ Gratis 14 Hari Retur. Tiaria Lafaz Allah Kalung Wanita [RMDN030-Y] Rp98.000. Buku Jangan Galau! Allah Peduli - Felix Supranto SS.CC.
Dialah tempat kembali yang terbaik. Oleh karena itu kita tidak perlu berputus asa manakala berbagai masalah datang bertubi-tubi dan terus mendera. Seakan tak kenal lelah, problem selalu datang menyapa tanpa henti. Ingatlah bahwasanya itu hanya ujian yang dikirimkan oleh Allah kepada kita agar kecintaan kepada selain Nya tidak lebih besar.
TulisanIni Dari Depan Sampe Belakang Berisi Bantahan Terhadap Kaum Musyabbihah (Wahhabiyyah Sekarang), Waspadai Mereka!! Share Wednesday,
memakaibahan,3 kata tersebut mengacu kepada jiwa manusia yang diciptakan Allah tanpa memakai bahan melainkan Allah langsung menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (Kej. 2:7b). kata berikut ialah yatsar yang berarti “membentuk”, bukan bertumbuh dan bertambah-tambah (Kej. 2:7).4 Jadi dari
HajiReguler dengan antrian lebih dari 30 tahun. Haji Khusus (ONH Plus) saja sudah mencapai 9 tahun. Ketika sanggup fisik dan finansial saja belum cukup, karena ada kesanggupan waktu dan kuota yang terbatas, sehingga tidak semua orang bisa menyegerakan ibadah haji karena keterbatasan tersebut. Alhamdulillah sejak tahun 2019 pemerintah RI telah menerbitkan UU
Allahada tanpa tempat dan serupa. قال الأستاذ السيد محمد حقى النازلى في كتابه خزينة الأسرار ص ١٤٥ في فصل الأحاديث الصحيحة الواردة و أقوال الأئمة فى تفسير آية الكرسي
KarenaAllah bebas dari tempat, Allah ada tanpa tempat. "Bagi setiap orang yang meyakini bahwa Allah adalah sesuatu yang memiliki ukuran dan berada di suatu tempat, atau Allah dengan Dzat-Nya mendekati Rasulullah, atau meyakini Allah duduk di atas arsy, hendaknya melepaskan keyakinan-keyakinan tersebut, dan kembali masuk Islam dengan
dtlT3. Keyakinan yang paling mendasar setiap Muslim adalah meyakini bahwa Allah subhanahu wa taala Maha Sempurna dan Maha Suci dari segala kekurangan. Allah subhanahu wa taala Maha Suci dari menyerupai makhluk-Nya. Allah subhanahu wa taala juga Maha Suci dari tempat dan arah. Allah subhanahu wa taala ada tanpa tempat. Demikian keyakinan yang paling mendasar setiap Muslim Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Dalam ilmu akidah atau teologi, keyakinan semacam ini dibahasakan, bahwa Allah subhanahu wa taala memiliki sifat Mukhalafatuhu lil-Hawaditsi, yaitu Allah subhanahu wa taala wajib tidak menyerupai makhluk-Nya. Ada sebuah dialog yang unik antara seorang Muslim Sunni yang meyakini Allah subhanahu wa taala ada tanpa tempat, dengan seorang Wahhabi yang berkeyakinan bahwa Allah subhanahu wa taala bertempat. Wahhabi berkata “Kamu ada pada suatu tempat. Aku ada pada suatu tempat. Berarti setiap sesuatu yang ada, pasti ada tempatnya. Kalau kamu berkata, Allah ada tanpa tempat, berarti kamu berpendapat Allah tidak ada” Sunni menjawab “Sekarang saya akan bertanya kepada Anda “Bukankah Allah telah ada tanpa tempat sebelum diciptakannya tempat?” Wahhabi menjawab “Betul, Allah ada tanpa tempat sebelum terciptanya tempat” Sunni berkata “Kalau memang wujudnya Allah tanpa tempat sebelum terciptanya tempat itu rasional, berarti rasional pula dikatakan, Allah ada tanpa tempat setelah terciptanya tempat. Mengatakan Allah ada tanpa tempat, tidak berarti menafikan wujudnya Allah” Wahhabi berkata “Bagaimana seandainya saya berkata, Allah telah bertempat sebelum terciptanya tempat?” Sunni menjawab “Pernyataan Anda mengandung dua kemungkinan. Pertama, Anda mengatakan bahwa tempat itu bersifat azali tidak ada permulaannya, keberadaannya bersama wujudnya Allah dan bukan termasuk makhluk Allah. Demikian ini berarti Anda mendustakan firman Allah subhanahu wa taala اَللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ “Allah-lah pencipta segala sesuatu.” QS. al-Zumar 62 Kemungkinan kedua, Anda berpendapat, bahwa Allah itu baru, yakni wujudnya Allah terjadi setelah adanya tempat, dengan demikian berarti Anda mendustakan firman Allah subhanahu wa taala هُوَ اْلأَوَّلُ وَاْلآَخِرُ “Dialah Allah Yang Maha Awal wujudnya tanpa permulaan dan Yang Maha Akhir Wujudnya tanpa akhir” QS. al-Hadid 3 Demikianlah dialog seorang Muslim Sunni dengan orang Wahhabi. Pada dasarnya, pendapat Wahhabi yang meyakini bahwa wujudnya Allah subhanahu wa taala ada dengan tempat dapat menjerumuskan seseorang keluar dari keyakinan yang paling mendasar setiap Muslim, yaitu Allah subhanahu wa taala Maha Suci dari segala kekurangan. Tidak jarang, kaum Wahhabi menggunakan ayat-ayat al-Qur’an untuk membenarkan keyakinan mereka, bahwa Allah subhanahu wa taala bertempat di langit. Akan tetapi, dalil-dalil mereka dapat dengan mudah dipatahkan dengan ayat-ayat al-Qur’an yang sama. Ulama Maroko dan Wahhabi Tuna Netra Al-Hafizh Ahmad bin Muhammad bin al-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani adalah ulama ahli hadits yang terakhir menyandang gelar al-hafizh gelar kesarjanaan tertinggi dalam bidang ilmu hadits. Ia memiliki kisah perdebatan yang sangat menarik dengan kaum Wahhabi. Dalam kitabnya, Ju’nat al-’Aththar, sebuah autobiografi yang melaporkan perjalanan hidupnya, beliau mencatat kisah berikut ini. “Pada tahun 1356 H ketika saya menunaikan ibadah haji, saya berkumpul dengan tiga orang ulama Wahhabi di rumah Syaikh Abdullah al-Shani’ di Mekkah yang juga ulama Wahhabi dari Najd. Dalam pembicaraan itu, mereka menampilkan seolah-olah mereka ahli hadits, amaliahnya sesuai dengan hadits dan anti taklid. Tanpa terasa, pembicaraan pun masuk pada soal penetapan ketinggian tempat Allah subhanahu wa taala dan bahwa Allah subhanahu wa taala itu ada di atas Arasy sesuai dengan ideologi Wahhabi. Mereka menyebutkan beberapa ayat al-Qur’an yang secara literal zhahir mengarah pada pengertian bahwa Allah subhanahu wa taala itu ada di atas Arasy sesuai keyakinan mereka. Akhirnya saya al-Ghumari berkata kepada mereka “Apakah ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi termasuk bagian dari al-Qur’an?” Wahhabi menjawab “Ya.” Saya berkata “Apakah meyakini apa yang menjadi maksud ayat-ayat tersebut dihukumi wajib?” Wahhabi menjawab “Ya.” Saya berkata “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa taala وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” QS. al-Hadid 4 Apakah ini termasuk al-Qur’an?” Wahhabi tersebut menjawab “Ya, termasuk al-Qur’an.” Saya berkata “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa taala مَا يَكُوْنُ مِنْ نَجْوَى ثَلاَثَةٍ إِلاَّ وَهُوَ رَابِعُهُمْ “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya….” QS. al-Mujadilah 7. Apakah ayat ini termasuk al-Qur’an juga?” Wahhabi itu menjawab “Ya, termasuk al-Qur’an.” Saya berkata “Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa taala tidak ada di langit. Mengapa Anda menganggap ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi yang menurut asumsi Anda menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa taala ada di langit lebih utama untuk diyakini dari pada kedua ayat yang saya sebutkan yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa taala tidak ada di langit? Padahal kesemuanya juga dari Allah subhanahu wa taala?” Wahhabi itu menjawab “Imam Ahmad mengatakan demikian.” Saya berkata kepada mereka “Mengapa kalian taklid kepada Ahmad dan tidak mengikuti dalil?” Tiga ulama Wahhabi itu pun terbungkam. Tak satu kalimat pun keluar dari mulut mereka. Sebenarnya saya menunggu jawaban mereka, bahwa ayat-ayat yang saya sebutkan tadi harus dita’wil, sementara ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa taala ada di langit tidak boleh dita’wil. Seandainya mereka menjawab demikian, tentu saja saya akan bertanya kepada mereka, siapa yang mewajibkan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan dan melarang menta’wil ayat-ayat yang kalian sebutkan tadi? Seandainya mereka mengklaim adanya ijma’ ulama yang mengharuskan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan tadi, tentu saja saya akan menceritakan kepada mereka informasi beberapa ulama seperti al-Hafizh Ibn Hajar tentang ijma’ ulama salaf untuk tidak menta’wil semua ayat-ayat sifat dalam al-Qur’an, bahkan yang wajib harus mengikuti pendekatan tafwidh menyerahkan pengertiannya kepada Allah subhanahu wa taala.” Demikian kisah al-Imam al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari dengan tiga ulama terhebat kaum Wahhabi. Dialog Terbuka di Surabaya dan Blitar Pada tahun 2009, saya pernah terlibat perdebatan sengit dengan seorang Ustadz Salafi berinisial AH di Surabaya. Beberapa bulan berikutnya saya berdebat lagi dengan Ustadz Salafi di Blitar. Ustadz tersebut berinisial AH pula, tetapi lain orang. Dalam perdebatan tersebut saya bertanya kepada AH “Mengapa Anda meyakini bahwa Allah subhanahu wa taala ada di langit?” Menanggapi pertanyaan saya, AH menyebutkan ayat-ayat al-Qur’an yang menurut asumsinya menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa taala ada di langit. Lalu saya berkata “Ayat-ayat yang Anda sebutkan tidak secara tegas menunjukkan bahwa Allah ada di langit. Karena kosa kata istawa, menurut para ulama memiliki 15 makna. Di samping itu, apabila Anda berargumentasi dengan ayat-ayat tersebut, maka argumen Anda dapat dipatahkan dengan ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa taala tidak ada di langit. Misalnya Allah subhanahu wa taala berfirman “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” QS. al-Hadid 4. Ayat ini menegaskan bahwa Allah subhanahu wa taala bersama kita di bumi, bukan ada di langit. Dalam ayat lain Allah subhanahu wa taala berfirman وَقَالَ إِنِّيْ ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ “Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku Palestina, yang akan memberiku petunjuk.” QS. al-Shaffat 99. Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim alaihissalam berkata akan pergi menuju Tuhannya, padahal Nabi Ibrahim alaihissalam pergi ke Palestina. Dengan demikian, secara literal ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa taala bukan ada di langit, tetapi ada di Palestina.” Setelah saya berkata demikian, AH tidak mampu menjawab akan tetapi mengajukan dalil lain dan berkata “Keyakinan bahwa Allah subhanahu wa taala ada di langit telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits shahih قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِلْجَارِيَةِ السَّوْدَاءِ أَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ. قَالَ مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ رَسُوْلُ اللهِ. قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ. رواه مسلم. “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada seorang budak perempuan yang berkulit hitam “Allah ada di mana?” Lalu budak itu menjawab “Allah ada di langit.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya; “Saya siapa?” Ia menjawab “Engkau Rasul Allah.” Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada majikan budak itu, “Merdekakanlah budak ini. Karena ia seorang budak yang mukmin.” HR. Muslim Setelah AH berkata demikian, saya menjawab begini “Ada tiga tinjauan berkaitan dengan hadits yang Anda sebutkan. Pertama, dari aspek kritisisme ilmu hadits naqd al-hadits. Hadits yang Anda sebutkan menurut para ulama tergolong hadits mudhtharib hadits yang simpang siur periwayatannya, sehingga kedudukannya menjadi lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah. Kesimpangsiuran periwayatan hadits tersebut, dapat dilihat dari perbedaan setiap perawi dalam meriwayatkan hadits tersebut. Ada yang meriwayatkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak bertanya di mana Allah subhanahu wa taala. Akan tetapi Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya, apakah kamu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah. Kedua, dari segi makna, para ulama melakukan ta’wil terhadap hadits tersebut dengan mengatakan, bahwa yang ditanyakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebenarnya adalah bukan tempat, tetapi kedudukan atau derajat Allah subhanahu wa taala. Lalu orang tersebut menjawab kedudukan Allah subhanahu wa taala ada di langit, maksudnya Allah subhanahu wa taala itu Maha Luhur dan Maha Tinggi. Ketiga, apabila Anda berargumen dengan hadits tersebut tentang keyakinan Allah subhanahu wa taala ada di langit, maka argumen Anda dapat dipatahkan dengan hadits lain yang lebih kuat dan menegaskan bahwa Allah subhanahu wa taala tidak ada di langit, bahkan ada di bumi. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ فَحَكَّهَا بِيَدِهِ وَرُؤِيَ مِنْهُ كَرَاهِيَةٌ وَقَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِيْ صَلاَتهِ فَإِنَّمَا يُنَاجِيْ رَبَّهُ أَوْ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ قِبْلَتِهِ فَلاَ يَبْزُقَنَّ فِيْ قِبْلَتِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. “Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, “Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melihat dahak di arah kiblat, lalu beliau menggosoknya dengan tangannya, dan beliau kelihatannya tidak menyukai hal itu. Lalu beliau bersabda “Sesungguhnya apabila salah seorang kalian berdiri dalam shalat, maka ia sesungguhnya berbincang-bincang dengan Tuhannya, atau Tuhannya ada di antara dirinya dan kiblatnya. Oleh karena itu, janganlah ia meludah ke arah kiblatnya, akan tetapi meludahlah ke arah kiri atau di bawah telapak kakinya” HR. al-Bukhari [405] Hadits ini menegaskan bahwa Allah subhanahu wa taala ada di depan orang yang sedang shalat, bukan ada di langit. Hadits ini jelas lebih kuat dari hadits riwayat Muslim, karena hadits ini riwayat al-Bukhari. Setelah saya menjawab demikian, AH juga tidak mampu menanggapi jawaban saya. Sepertinya dia merasa kewalahan dan tidak mampu menjawab. Ia justru mengajukan dalil lain dengan berkata “Keyakinan bahwa Allah ada di langit itu ijma’ ulama salaf.” Lalu saya jawab, “Tadi Anda mengatakan bahwa dalil keyakinan Allah ada di langit, adalah ayat al-Qur’an. Kemudian setelah argumen Anda kami patahkan, Anda beragumen dengan hadits. Lalu setelah argumen Anda kami patahkan lagi, Anda sekarang berdalil dengan ijma’. Padahal ijma’ ulama salaf sejak generasi sahabat justru meyakini Allah subhanahu wa taala tidak bertempat. Al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi berkata dalam al-Farqu Bayna al-Firaq وَأَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّهُ لاَ يَحْوِيْهِ مَكَانٌ وَلاَ يَجْرِيْ عَلَيْهِ زَمَانٌ “Kaum Muslimin sejak generasi salaf para sahabat dan tabi’in telah bersepakat bahwa Allah tidak bertempat dan tidak dilalui oleh waktu” al-Farq bayna al-Firaq, 256 Al-Imam Abu Ja’far al-Thahawi juga berkata dalam al-’Aqidah al-Thahawiyyah, risalah kecil yang menjadi kajian kaum Sunni dan Wahhabi وَلاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِتُّ “Allah subhanahu wa taala tidak dibatasi oleh arah yang enam” Setelah saya menjawab demikian kepada AH, saya bertanya kepada AH “Menurut Anda, tempat itu makhluk apa bukan?” AH menjawab “Makhluk.” Saya bertanya “Kalau tempat itu makhluk, lalu sebelum terciptanya tempat, Allah ada di mana?” AH menjawab “Pertanyaan ini tidak boleh, dan termasuk pertanyaan yang bid’ah.” Demikian jawaban AH, yang menimbulkan tawa para hadirin dari semua kalangan pada waktu itu. Kebetulan pada acara tersebut, mayoritas hadirin terdiri dari kalangan Salafi, anggota jamaah AH. Demikianlah, cara dialog orang-orang Wahhabi. Ketika mereka tidak dapat menjawab pertanyaan, mereka tidak akan menjawab, aku tidak tahu, sebagaimana tradisi ulama salaf dulu. Akan tetapi mereka akan menjawab, “Pertanyaanmu bid’ah dan tidak boleh.” AH sepertinya tidak mengetahui bahwa pertanyaan Allah subhanahu wa taala ada di mana sebelum terciptanyan alam, telah ditanyakan oleh para sahabat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak berkata kepada mereka, bahwa pertanyaan tersebut bid’ah atau tidak boleh. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ إِنِّيْ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِذْ دَخَلَ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالُوْا جِئْنَاكَ لِنَتَفَقَّهَ فِي الدِّيْنِ وَلِنَسْأَلَكَ عَنْ أَوَّلِ هَذَا اْلأَمْرِ مَا كَانَ. قَالَ كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ. رواه البخاري. “Imran bin Hushain radhiyallahu anhu berkata “Aku berada bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba datang sekelompok dari penduduk Yaman dan berkata “Kami datang untuk belajar agama dan menanyakan tentang permulaan yang ada ini, bagaimana sesungguhnya?” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab “Allah telah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Allah” HR. al-Bukhari [3191]. Hadits ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa taala tidak bertempat. Allah subhanahu wa taala ada sebelum adanya makhluk, termasuk tempat. Al-Imam al-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang hasan dalam al-Sunan berikut ini عَنْ أَبِيْ رَزِيْنٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ ؟ قَالَ كَانَ فِيْ عَمَاءٍ مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ وَخَلَقَ عَرْشَهُ عَلىَ الْمَاءِ قَالَ أَحْمَدُ بْنُ مَنِيْعٍ قَالَ يَزِيْدُ بْنُ هَارُوْنَ الْعَمَاءُ أَيْ لَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ قَالَ التِّرْمِذِيُّ وَهَذَا حَدِيْثٌ حَسَنٌ. “Abi Razin radhiyallahu anhu berkata “Aku berkata, wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab “Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertainya. Di atasnya tidak ada sesuatu dan di bawahnya tidak ada sesuatu. Lalu Allah menciptakan Arasy di atas air.” Ahmad bin Mani’ berkata, bahwa Yazid bin Harun berkata, maksud hadits tersebut, Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertai termasuk tempat. Al-Tirmidzi berkata “hadits ini bernilai hasan” Sunan al-Tirmidzi, [3109] Dalam setiap dialog yang terjadi antara Muslim Sunni dengan kaum Wahhabi, pasti kaum Sunni mudah sekali mematahkan argumen Wahhabi. Ketika Wahhabi mengajukan argumen dari ayat al-Qur’an, maka dengan mudahnya dipatahkan dengan ayat al-Qur’an yang lain. Ketika Wahhabi mengajukan argumen dengan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam, pasti kaum Sunni dengan mudahnya mematahkan argumen tersebut dengan hadits yang lebih kuat. Dan ketika Sunni berargumen dengan dalil rasional, pasti Wahhabi tidak dapat membantah dan menjawabnya. Keyakinan bahwa Allah subhanahu wa taala ada tanpa tempat adalah keyakinan kaum Muslimin sejak generasi salaf, kalangan sahabat dan tabi’in. Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata كَانَ اللهُ وَلاَ مَكَانَ وَهُوَ اْلآَنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ “Allah subhanahu wa taala ada sebelum adanya tempat. Dan keberadaan Allah sekarang, sama seperti sebelum adanya tempat maksudnya Allah tidak bertempat” al-Farq bayna al-Firaq, 256 Syaikh al-Syanqithi dan Wahhabi Tuna Netra Ketika orang-orang Wahhabi memasuki Hijaz dan membantai kaum Muslimin dengan alasan bahwa mereka telah syirik, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Orang-orang Khawarij akan membunuh orang-orang yang beriman dan membiarkan para penyembah berhala.” Mereka juga membunuh seorang ulama terkemuka. Mereka menyembelih Syaikh Abdullah al-Zawawi, guru para ulama madzhab al-Syafi’i, sebagaimana layaknya menyembelih kambing. Padahal usia beliau sudah di atas 90 tahun. Mertua Syaikh al-Zawawi yang juga sudah memasuki usia senja juga mereka sembelih. Kemudian mereka memanggil sisa-sisa ulama yang belum dibunuh untuk diajak berdebat tentang tauhid, Asma Allah subhanahu wa taala dan sifat-sifat-Nya. Ulama yang setuju dengan pendapat mereka akan dibebaskan. Sedangkan ulama yang membantah pendapat mereka akan dibunuh atau dideportasi dari Hijaz. Di antara ulama yang diajak berdebat oleh mereka adalah Syaikh Abdullah al-Syanqithi, salah seorang ulama kharismatik yang dikenal hafal Sirah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sedangkan dari pihak Wahhabi yang mendebatnya, di antaranya seorang ulama mereka yang buta mata dan buta hati. Kebetulan perdebatan berkisar tentang teks-teks al-Qur’an dan hadits yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah subhanahu wa taala. Mereka bersikeras bahwa teks-teks tersebut harus diartikan secara literal dan tekstual, dan tidak boleh diartikan secara kontekstual dan majazi. Si tuna netra itu juga mengingkari adanya majaz dalam al-Qur’an. Bahkan lebih jauh lagi, ia menafikan majaz dalam bahasa Arab, karena taklid buta kepada pendapat Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim. Lalu Syaikh Abdullah al-Syanqithi berkata kepada si tuna netra itu “Apabila Anda berpendapat bahwa majaz itu tidak ada dalam al-Qur’an, maka sesungguhnya Allah subhanahu wa taala telah berfirman dalam al-Qur’an وَمَنْ كَانَ فِيْ هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي اْلآَخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيْلاً. الإسراء ٧٢. “Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat nanti ia akan lebih buta pula dan lebih tersesat dari jalan yang benar.” QS. al-Isra’ 72. Berdasarkan ayat di atas, apakah Anda berpendapat bahwa setiap orang yang tuna netra di dunia, maka di akhirat nanti akan menjadi lebih buta dan lebih tersesat, sesuai dengan pendapat Anda bahwa dalam al-Qur’an tidak ada majaz?” Mendengar sanggahan Syaikh al-Syanqithi, ulama Wahhabi yang tuna netra itu pun tidak mampu menjawab. Ia hanya berteriak dan memerintahkan anak buahnya agar Syaikh al-Syanqithi dikeluarkan dari majlis perdebatan. Kemudian si tuna netra itu meminta kepada Ibn Saud agar mendeportasi al-Syanqithi dari Hijaz. Akhirnya ia pun dideportasi ke Mesir. Kisah ini dituturkan oleh al-Hafizh Ahmad al-Ghumari dalam kitabnya, Ju’nat al-’Aththar. Al-Imam al-Bukhari dan Ta’wil Kalau kita mengamati dengan seksama, perdebatan orang-orang Wahhabi dengan para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah, akan mudah kita simpulkan, bahwa kaum Wahhabi seringkali mengeluarkan vonis hukum tanpa memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan. Bahkan tidak jarang, pernyataan mereka dapat menjadi senjata untuk memukul balik pandangan mereka sendiri. Ustadz Syafi’i Umar Lubis dari Medan bercerita kepada saya. “Ada sebuah pesantren di kota Siantar, Siamlungun, Sumatera Utara. Pesantren itu bernama Pondok Pesantren Darus Salam. Setiap tahun, Pondok tersebut mengadakan Maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan mengundang sejumlah ulama dari berbagai daerah termasuk Medan dan Aceh. Acara puncak biasanya ditaruh pada siang hari. Malam harinya diisi dengan diskusi. Pada Maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam tahun 2010 ini saya dan beberapa orang ustadz diminta sebagai pembicara dalam acara diskusi. Kebetulan diskusi kali ini membahas tentang Salafi apa dan mengapa, dengan judul Ada Apa Dengan Salafi? Setelah presentasi tentang aliran Salafi selesai, lalu tibalah sesi tanya jawab. Ternyata dalam sesi tanya jawab ini ada orang yang berpakaian gamis mengajukan keberatan dengan pernyataan saya dalam memberikan keterangan tentang Salafi, antara lain berkaitan dengan ta’wil. Orang Salafi tersebut mengatakan “Al-Qur’an itu diturunkan dengan bahasa Arab. Sudah barang tentu harus kita fahami sesuai dengan bahasa Arab pula”. Pernyataan orang Salafi itu, saya dengarkan dengan cermat. Kemudian dia melanjutkan keberatannya dengan berkata “Ayat-ayat al-Qur’an itu tidak perlu dita’wil dan ini pendapat Ahlussunnah”. Setelah diselidiki, ternyata pemuda Salafi itu bernama Sofyan. Ia berprofesi sebagai guru di lembaga As-Sunnah, sebuah lembaga pendidikan orang-orang Wahhabi atau Salafi. Mendengar pernyataan Sofyan yang terakhir, saya bertanya “Apakah Anda yakin bahwa al-Imam al-Bukhari itu ahli hadits?” Sofyan menjawab “Ya, tidak diragukan lagi, beliau seorang ahli hadits.” Saya bertanya “Apakah al-Bukhari penganut faham Ahlussunnah Wal-Jama’ah?” Sofyan menjawab “Ya.” Saya berkata “Apakah al-Albani seorang ahli hadits?” Sofyan menjawab “Ya, dengan karya-karya yang sangat banyak dalam bidang hadits, membuktikan bahwa beliau juga ahli hadits.” Saya berkata “Kalau benar al-Bukhari menganut Ahlussunnah, berarti al-Bukhari tidak melakukan ta’wil. Bukankah begitu keyakinan Anda?” Sofyan menjawab “Benar begitu.” Saya berkata “Saya akan membuktikan kepada Anda, bahwa al-Bukhari juga melakukan ta’wil .” Sofyan berkata “Mana buktinya?” Mendengar pertanyaan Sofyan, saya langsung membuka Shahih al-Bukhari tentang ta’wil yang beliau lakukan dan memberikan photo copynya kepada anak muda itu. Saya berkata “Anda lihat pada halaman ini, al-Imam al-Bukhari mengatakan بَابُ – كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ اَيْ مُلْكَهُ. Artinya, “Bab tentang ayat Segala sesuatu akan hancur kecuali Wajah-Nya, artinya Kekuasaan-Nya.” Nah, kata wajah-Nya, oleh al-Imam al-Bukhari diartikan dengan mulkahu, artinya kekuasaan-Nya. Kalau begitu al-Imam al-Bukhari melakukan ta’wil terhadap ayat ini. Berarti, menurut logika Anda, al-Bukhari seorang yang sesat, bukan Ahlussunnah. Anda setuju bahwa al-Bukhari bukan Ahlussunnah dan pengikut aliran sesat?”. Mendengar pertanyaan saya, Sofyan hanya terdiam. Sepatah katapun tidak terlontar dari lidahnya. Kemudian saya berkata “Kalau begitu, sejak hari ini, sebaiknya Anda jangan memakai hadits al-Bukhari sebagai rujukan. Bahkan Syaikh al-Albani, orang yang saudara puji itu, dan orang-orang Salafi memujinya dan menganggapnya lebih hebat dari al-Imam al-Bukhari sendiri. Al-Albani telah mengkritik al-Imam al-Bukhari dengan kata-kata yang tidak pantas. Al-Albani berkata “Pendapat al-Bukhari yang melakukan ta’wil terhadap ayat di atas ini tidak sepatutnya diucapkan oleh seorang Muslim yang beriman”. Inilah komentar Syaikh Anda, al-Albani tentang ta’wil al-Imam al-Bukhari ketika menta’wil ayat بَابُ – كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ اَيْ مُلْكَهُ. Secara tidak langsung, seolah-olah al-Albani mengatakan bahwa ta’wilan al-Imam al-Bukhari tersebut pendapat orang kafir. Kemudian saya mengambil photo copy buku fatwa al-Albani dan saya serahkan kepada anak muda Salafi ini. Ia pun diam seribu bahasa. Demikian kisah yang dituturkan oleh Syafi’i Umar Lubis dari Medan, seorang ulama muda yang kharismatik dan bersemangat dalam membela Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Ta’wil Imam Ahmad bin Hanbal Ta’wil tehadap teks-teks mutasyabihat telah dilakukan oleh para ulama salaf, di antaranya Imam Malik bin Anas, Imam Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain. Akan tetapi kaum Wahhabi sering kali mengingkari fakta-fakta tersebut dengan berbagai macam alasan yang tidak ilmiah dan selalu dibuat-buat. Seorang teman saya, berinisial AD menceritakan pengalamannya ketika berdialog dengan AM, tokoh Wahhabi kelahiran Sumatera yang sekarang tinggal di Jember. AD bercerita begini. “Sekitar bulan Maret tahun 2010 lalu, saya mengikuti suatu acara di Jakarta Selatan. Acara tersebut diadakan oleh salah satu ormas Islam di Indonesia. Dalam acara itu, ada seorang pemateri Wahhabi yang berasal dari Sumatera dan saat ini tinggal di Jember. Di antara materi yang disampaikannya adalah persoalan ta’wil. Dalam pandangannya, ta’wil atas ayat-ayat mutasyabihat tidak boleh dilakukan. Sehingga dengan asumsi demikian, ia meyakini bahwa Allah subhanahu wa taala itu bertempat atau berada di atas Arasy. Dia menggunakan ayat al-Rahman ala al-Arsy istawa QS. Thaha 5. Lalu saya mengajukan beberapa ayat lain yang justru menunjukkan kalau Allah subhanahu wa taala tidak ada di atas Arasy. Akibatnya, terjadiah dialog sengit antara saya dengan Ustadz lulusan Madinah tersebut. Lalu setelah itu, saya membeberkan fakta dan data-data akurat bahwa tradisi ta’wil sudah biasa dilakukan oleh ulama salaf. Salah satunya adalah ta’wil yang dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal atas ayat wa ja’a rabbuka wal malaku shaffan-shaffa QS. al-Fajr 22. Imam Ahmad mentakwil ayat tersebut dengan ja’a tsawabuhu wa qhadha’uhu datangnya pahala dan ketetapan Allah subhanahu wa taala. Setelah itu, Ustadz Ali Musri mencari ta’wil Imam Ahmad tersebut di software Maktabah Syamilah. Setelah dia menemukannya, dia membacakan komentar Imam al-Baihaqi yang berbunyi hadza al-isnad la ghubara alaih sanad ini tidak ada nodanya alias bersih yang menunjukkan bahwa sanadnya memang shahih. Ternyata, aneh sekali, Ustadz tersebut tertawa dan menganggap bahwa komentar atau penilaian al-Baihaqi yang berupa redaksi hadza al-isnad la ghubara ’alaih tersebut sebagai shighat redaksi yang menunjukkan atas kelemahan suatu sanad. Saya juga heran, mengapa Ustadz lulusan Madinah tersebut tidak begitu memahami istilah-istilah yang biasa dipakai oleh para ahli hadits. Ia tidak mengerti bahwa pernyataan al-Baihaqi yang berbunyi hadza al-isnad la ghubara ’alaih bermakna bahwa sanad riwayat ini tidak ada nodanya sama sekali, alias shahih. Sayangnya, berhubung waktu yang disediakan oleh panitia dan moderator telah habis, saya tidak bisa membantah dan mengomentari kembali pernyataan pemateri itu.” Demikian kisah AD, kepada saya secara pribadi.
Allah Ada Tanpa Tempat dan Arah Allah ta’ala berfirman “Dia Allah tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya baik dari satu segi maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. as-Syura 11 Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam makhluk Allah terbagi atas dua bagian; yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil para ulama menyebutnya dengan al Jawhar al Fard, dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian jisim. Benda yang terakhir ini terbagi menjadi dua macam; 1. Benda Lathif sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, ruh, angin dan sebagainya. 2. Benda Katsif sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya. Adapun sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta’ala tidak menyerupai makhluk-Nya, bukan merupakan al Jawhar al Fard, juga bukan benda Lathif atau benda Katsif. Dan Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak yang serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti ia memiliki dimensi panjang, lebar dan kedalaman. Sedangkan sesuatu yang demikian, maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut. Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda “Allah ada pada azal keberadaan tanpa permulaan dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud. Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal keberadaan tanpa permulaan, tidak ada sesuatu selain-Nya bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru makhluk. Al Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqh al Absath berkata “Allah ta’ala ada pada azal keberadaan tanpa permulaan dan belum ada tempat, Dia ada sebelum menciptakan makhluk, Dia ada dan belum ada tempat, makhluk dan sesuatu dan Dia pencipta segala sesuatu”. Al Imam Fakhruddin ibn Asakir W. 620 H dalam risalah aqidahnya mengatakan “Allah ada sebelum ciptaan, tidak ada bagi-Nya sebelum dan sesudah, atas dan bawah, kanan dan kiri, depan dan belakang, keseluruhan dan bagian-bagian, tidak boleh dikatakan “Kapan ada-Nya ?”, “Di mana Dia ?” atau “Bagaimana Dia ?”, Dia ada tanpa tempat”. Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah. Al Imam al Bayhaqi W. 458 H dalam kitabnya al Asma wa ash-Shifat, hlm. 506, mengatakan “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah shalllallahu alayhi wa sallam Maknanya “Engkau azh-Zhahir yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya, tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin yang tidak dapat dibayangkan tidak ada sesuatu di bawah-Mu” Muslim dan lainnya. Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat”. Hadits Jariyah Sedangkan salah satu riwayat hadits Jariyah yang zhahirnya member persangkaan bahwa Allah ada di langit, maka hadits tersebut tidak boleh diambil secara zhahirnya, tetapi harus ditakwil dengan makna yang sesuai dengan sifat-sifat Allah, jadi maknanya adalah Dzat yang sangat tinggi derajat-Nya sebagaimana dikatakan oleh ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah, di antaranya adalah al Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim. Sementara riwayat hadits Jariyah yang maknanya shahih adalah Al Imam Malik dan al Imam Ahmad meriwayatkan bahwasanya salah seorang sahabat Anshar datang kepada Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam dengan membawa seorang hamba sahaya berkulit hitam, dan berkata “Wahai Rasulullah sesungguhnya saya mempunyai kewajiban memerdekakan seorang hamba sahaya yang mukmin, jika engkau menyatakan bahwa hamba sahaya ini mukminah maka aku akan memerdekakannya, kemudian Rasulullah berkata kepadanya Apakah engkau bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah? Ia budak menjawab “Ya”, Rasulullah berkata kepadanya Apakah engkau bersaksi bahwa saya adalah Rasul utusan Allah? Ia menjawab “Ya”, kemudian Rasulullah berkata Apakah engkau beriman terhadap hari kebangkitan setelah kematian? ia menjawab “Ya”, kemudian Rasulullah berkata Merdekakanlah dia”. Al Hafizh al Haytsami W. 807 H dalam kitabnya Majma’ az-Zawa-id Juz I, hal. 23 mengatakan “Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi shahih”. Riwayat inilah yang sesuai dengan prinsip-prinsip dan dasar ajaran Islam, karena di antara dasar-dasar Islam bahwa orang yang hendak masuk Islam maka ia harus mengucapkan dua kalimat syahadat, bukan yang lain. Tidak Boleh dikatakan Allah ada di atas Arsy atau ada di mana-mana Senada dengan hadits yang diriwayatkan oleh al Bukhari di atas perkataan sayyidina Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya- Maknanya “Allah ada pada azal dan belum ada tempat dan Dia Allah sekarang setelah menciptakan tempat tetap seperti semula, ada tanpa tempat” Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq h. 333. Karenanya tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau di mana-mana, juga tidak boleh dikatakan Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani W. 973 H dalam kitabnya al Yawaqiit Wa al Jawaahir menukil perkataan Syekh Ali al Khawwash “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di mana-mana”. Aqidah yang mesti diyakini bahwa Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat. Al Imam Ali -semoga Allah meridlainya- mengatakan yang maknanya “Sesungguhnya Allah menciptakan Arsy makhluk Allah yang paling besar untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq, hal. 333 Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- juga mengatakan yang maknanya “Sesungguhnya yang menciptakan ayna tempat tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana pertanyaan tentang tempat, dan yang menciptakan kayfa sifat-sifat makhluk tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana” diriwayatkan oleh Abu al Muzhaffar al Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hal. 98. A llah Maha suci dari Hadd Maknanya Menurut ulama tauhid yang dimaksud al mahdud sesuatu yang berukuran adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al hadd batasan menurut mereka adalah bentuk baik kecil maupun besar. Adz-Dzarrah sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk melalui jendela mempunyai ukuran demikian juga Arsy, cahaya, kegelapan dan angin masing-masing mempunyai ukuran. Al Imam Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- berkata yang maknanya “Barang siapa beranggapan berkeyakinan bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah belum beriman kepada-Nya” diriwayatkan oleh Abu Nu’aym W. 430 H dalam Hilyah al Auliya’, juz I hal. 72. Maksud perkataan sayyidina Ali tersebut adalah sesungguhnya berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang kecil atau berkeyakinan bahwa Dia memiliki bentuk yang meluas tidak berpenghabisan merupakan kekufuran. Semua bentuk baik Lathif maupun Katsif, kecil ataupun besar memiliki tempat dan arah serta ukuran. Sedangkan Allah bukanlah benda dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda, karenanya ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah mengatakan “Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak mempunyai ukuran, besar maupun kecil”. Karena sesuatu yang memiliki tempat dan arah pastilah benda. Juga tidak boleh dikatakan tentang Allah bahwa tidak ada yang mengetahui tempat-Nya kecuali Dia. Adapun tentang benda Katsif bahwa ia mempunyai tempat, hal ini jelas sekali. Dan mengenai benda lathif bahwa ia mempunyai tempat, penjelasannya adalah bahwa ruang kosong yang diisi oleh benda lathif, itu adalah tempatnya. Karena definisi tempat adalah ruang kosong yang diisi oleh suatu benda. Al Imam As-Sajjad Zayn al Abidin Ali ibn al Husain ibn Ali ibn Abi Thalib 38 H-94 H berkata “Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”, dan dia berkata “Engkaulah Allah yang Maha suci dari hadd benda, bentuk, dan ukuran”, beliau juga berkata “Maha suci Engkau yang tidak bisa diraba maupun disentuh” yakni bahwa Allah tidak menyentuh sesuatupun dari makhluk-Nya dan Dia tidak disentuh oleh sesuatupun dari makhluk-Nya karena Allah bukan benda. Allah Maha suci dari sifat berkumpul, menempel, berpisah dan tidak berlaku jarak antara Allah dan makhluk-Nya karena Allah bukan benda dan Allah ada tanpa arah. Diriwayatkan oleh al Hafizh az-Zabidi dalam al Ithaf dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al Bayt; keturunan Rasulullah. Hal ini juga sebagai bantahan terhadap orang yang berkeyakinan Wahdatul Wujud dan Hulul. Bantahan Ahlussunnah terhadap Keyakinan Tasybih; bahwa Allah bertempat, duduk atau bersemayam di atas Arsy. Al Imam Abu Hanifah -semoga Allah meridlainya- berkata “Barangsiapa yang mengatakan saya tidak tahu apakah Allah berada di langit ataukah berada di bumi maka dia telah kafir”. diriwayatkan oleh al Maturidi dan lainnya. Al Imam Syekh al Izz ibn Abd as-Salam asy-Syafi’i dalam kitabnya “Hall ar-Rumuz” menjelaskan maksud Imam Abu Hanifah, beliau mengatakan “Karena perkataan ini memberikan persangkaan bahwa Allah bertempat, dan barang siapa yang menyangka bahwa Allah bertempat maka ia adalah musyabbih orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya”. Demikian juga dijelaskan maksud Imam Abu Hanifah ini oleh al Bayadli al Hanafi dalam Isyarat al Maram. Al Imam al Hafizh Ibn al Jawzi W. 597 H mengatakan dalam kitabnya Daf’u Syubah at-Tasybih Maknanya “Sesungguhnya orang yang mensifati Allah dengan tempat dan arah maka ia adalah Musyabbih orang yang menyerupakan Allah dengan Makhluk-Nya dan Mujassim orang yang meyakini bahwa Allah adalah jisim benda yang tidak mengetahui sifat Allah”. Al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani W. 852 H dalam Fath al Bari Syarh Shahih al Bukhari mengatakan “Sesungguhnya kaum Musyabbihah dan Mujassimah adalah mereka yang mensifati Allah dengan tempat padahal Allah maha suci dari tempat”. Di dalam kitab al Fatawa al Hindiyyah, cetakan Dar Shadir, jilid II, h. 259 tertulis sebagai berikut “Adalah kafir orang yang menetapkan tempat bagi Allah ta’ala “. Juga dalam kitab Kifayah al Akhyar karya al Imam Taqiyyuddin al Hushni W. 829 H, Jilid II, h. 202, Cetakan Dar al Fikr, tertulis sebagai berikut “… hanya saja an-Nawawi menyatakan dalam bab Shifat ash-Shalat dari kitab Syarh al Muhadzdzab bahwa Mujassimah adalah kafir, Saya al Hushni berkata “Inilah kebenaran yang tidak dibenarkan selainnya, karena tajsim menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dan meyakini bahwa Allah adalah jisim –benda- jelas menyalahi al Qur’an. Semoga Allah memerangi golongan Mujassimah dan Mu’aththilah golongan yang menafikan sifat-sifat Allah, alangkah beraninya mereka menentang Allah yang berfirman tentang Dzat-Nya asy-Syura 11 Maknanya “Dia Allah tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya dan Dia disifati dengan sifat pendengaran dan penglihatan yang tidak menyerupai pendengaran dan penglihatan makhluk-Nya”. Ayat ini jelas membantah kedua golongan tersebut”. Imam Abu Hanifah Mensucikan Allah dari Arah Al Imam Abu Hanifah –semoga Allah meridlainya- dalam kitabnya al Washiyyah berkata yang maknanya “Bahwa penduduk surga melihat Allah ta’ala adalah perkara yang haqq pasti terjadi tanpa Allah disifati dengan sifat-sifat benda, tanpa menyerupai makhluk-Nya dan tanpa Allah berada di suatu arah” Ini adalah penegasan al Imam Abu Hanifah –semoga Allah meridlainya- bahwa beliau menafikan arah dari Allah ta’ala dan ini menjelaskan kepada kita bahwa ulama salaf mensucikan Allah dari tempat dan arah. Imam Malik Mensucikan Allah dari sifat Duduk, Bersemayam atau semacamnya Al Imam Malik –semoga Allah meridlainya– berkata “Ar-Rahman ala al Arsy istawa sebagaimana Allah mensifati Dzat hakekat-Nya dan tidak boleh dikatakan bagaimana, dan kayfa sifat-sifat makhluk adalah mustahil bagi-Nya” Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma’ Wa ash-Shifat. Maksud perkataan al Imam Malik tersebut, bahwa Allah maha suci dari semua sifat benda seperti duduk, bersemayam, berada di suatu tempat dan arah dan sebagainya. Sedangkan riwayat yang mengatakan wa al Kayf Majhul adalah tidak benar dan Al Imam Malik tidak pernah mengatakannya. Dzat Allah Tidak Bisa Dibayangkan Al Imam asy-Syafi’i -semoga Allah meridlainya– berkata “Barang siapa yang berusaha untuk mengetahui pengatur-Nya Allah hingga meyakini bahwa yang ia bayangkan dalam benaknya adalah Allah, maka dia adalah musyabbih orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, kafir. Dan jika dia berhenti pada keyakinan bahwa tidak ada tuhan yang mengaturnya maka dia adalah mu’aththil -atheis- orang yang meniadakan Allah. Dan jika berhenti pada keyakinan bahwa pasti ada pencipta yang menciptakannya dan tidak menyerupainya serta mengakui bahwa dia tidak akan bisa membayangkan-Nya maka dialah muwahhid orang yang mentauhidkan Allah; muslim”. Diriwayatkan oleh al Bayhaqi danlainnya Al Imam Ahmad ibn Hanbal dan al Imam Tsauban ibn Ibrahim Dzu an-Nun al Mishri, salah seorang murid terkemuka al Imam Malik -semoga Allah meridlai keduanya- berkata “Apapun yang terlintas dalam benakmu tentang Allah maka Allah tidak menyerupai itu sesuatu yang terlintas dalam benak” Diriwayatkan oleh Abu al Fadll at-Tamimi dan al Khathib al Baghdadi Hukum Orang yang meyakini Tajsim; bahwa Allah adalah Benda Syekh Ibn Hajar al Haytami W. 974 H dalam al Minhaj al-Qawim h. 64, mengatakan “Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan asy-Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah -semoga Allah meridlai mereka- mengenai pengkafiran mereka terhadap orangorang yang mengatakan bahwa Allah di suatu arah dan dia adalah benda, mereka pantas dengan predikat tersebut kekufuran”. Al Imam Ahmad ibn Hanbal –semoga Allah meridlainyamengatakan “Barang siapa yang mengatakan Allah adalah benda, tidak seperti benda-benda maka ia telah kafir” dinukil oleh Badr ad-Din az-Zarkasyi W. 794 H, seorang ahli hadits dan fiqh bermadzhab Syafi’I dalam kitab Tasynif al Masami’ dari pengarang kitab al Khishal dari kalangan pengikut madzhab Hanbali dari al Imam Ahmad ibn Hanbal. Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari dalam karyanya an-Nawadir mengatakan “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda maka ia telah kafir, tidak mengetahui Tuhannya”. As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- 227-321 H berkata “Maha suci Allah dari batas-batas bentuk kecil maupunbesar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali, batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar seperti wajah, tangan dan lainnya maupun anggota badan yang kecil seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya. Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”. Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ konsensus para sahabat dan Salaf orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah. Diambil dalil dari perkataan tersebut bahwasanya bukanlah maksud dari mi’raj bahwa Allah berada di arah atas lalu Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam naik ke atas untuk bertemu dengan-Nya, melainkan maksud mi’raj adalah memuliakan Rasulullah shalalllahu alayhi wasallam dan memperlihatkan kepadanya keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al Qur’an surat al Isra ayat 1. Juga tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah mendekat kepada Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam sehingga jarak antara keduanya dua hasta atau lebih dekat, melainkan yang kepada Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam di saat mi’rajadalah Jibril alayhissalam, sebagaimana diriwayatkan oleh al Imam al Bukhari W. 256 H dan lainnya dari as-Sayyidah Aisyah -semoga Allah meridlainya-, maka wajib dijauhi kitab Mi’raj Ibnu Abbas dan Tanwir al Miqbas min Tafsir Ibnu Abbas karena keduanya adalah kebohongan belaka yang dinisbatkan kepadanya. Sedangkan ketika seseorang menengadahkan kedua tangannya ke arah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah berada di arah langit. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ka’bah. Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka’bah adalah kiblat shalat. Penjelasan seperti ini dituturkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti al Imam al Mutawalli W. 478 H dalam kitabnya al Ghun-yah, al Imam al Ghazali W. 505 H dalam kitabnya Ihya Ulum ad-Din, al Imam an-Nawawi W. 676 H dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim, al Imam Taqiyy ad-Din as-Subki W. 756 H dalam kitab as-Sayf ash-Shaqil dan masih banyak lagi. Perkataan al Imam at-Thahawi tersebut juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham Wahdah al Wujud yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya atau pengikut paham Hulul yang berkeyakinan bahwa Allah menempati makhluk-Nya. Dan ini adalah kekufuran berdasarkan Ijma’ konsensus kaum muslimin sebagaimana dikatakan oleh al Imam as-Suyuthi W. 911 H dalam karyanya al Hawi li al Fatawi dan lainnya, juga para panutan kita ahli tasawwuf sejati seperti al Imam al Junaid al Baghdadi W. 297 H, al Imam Ahmad ar-Rifa’i W. 578 H, Syekh Abdul Qadir al Jilani W. 561 H dan semua Imam tasawwuf sejati, mereka selalu memperingatkan masyarakat akan orang-orang yang berdusta sebagai pengikut tarekat tasawwuf dan meyakini aqidah Wahdah al Wujud dan Hulul. Al Imam ath-Thahawi juga mengatakan “Barangsiapa menyifati Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir”. Di antara sifat-sifat manusia adalah bergerak, diam, turun, naik, duduk, bersemayam, mempunyai jarak, menempel, berpisah, berubah, berada pada satu tempat dan arah, berbicara dengan huruf, suara dan bahasa dan sebagainya. Maka orang yang mengatakan bahwa bahasa Arab atau bahasa-bahasa selain bahasa Arab adalah bahasa Allah atau mengatakan bahwa kalam Allah yang azali tidak mempunyai permulaan dengan huruf, suara atau semacamnya, dia telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Dan barang siapa yang menyifati Allah dengan salah satu dari sifat-sifat manusia seperti yang tersebut di atas atau semacamnya ia telah terjerumus dalam kekufuran. Begitu juga orang yang meyakini Hulul dan Wahdah al Wujud telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Aqidah Imam Abul Hasan al Asy’ari Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari W. 324 H –semoga Allah meridlainya- berkata “Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat” diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma wa ash-Shifat.1 Beliau juga mengatakan 1 Ini adalah salah satu bukti yang menunjukkan bahwa kitab al Ibanah yang dicetak dan tersebar sekarang dan dinisbatkan kepada al Imam Abu al Hasan al Asy’ari telah banyak dimasuki sisipan-sisipan palsu dan penuh kebohongan, maka hendaklah dijauhi kitab tersebut. “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ta’ala di satu tempat atau di semua tempat”. Perkataan al Imam al Asy’ari ini dinukil oleh al Imam Ibnu Furak W. 406 H dalam karyanya al Mujarrad. Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat Al Imam Ahmad ar-Rifa’i W. 578 H dalam al Burhan al Muayyad berkata “Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran”. Mutasyabihat artinya nash-nash al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam yang dalam bahasa arab mempunyai lebih dari satu arti dan tidak boleh diambil secara zhahirnya, karena hal tersebut mengantarkan kepada tasybih menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, akan tetapi wajib dikembalikan maknanya sebagaimana perintah Allah dalam al Qur’an pada ayat-ayat yang Muhkamat, yakni ayat-ayat yang mempunyai satu makna dalam bahasa Arab, yaitu makna bahwa Allah tidak menyerupai segala sesuatu dari makhluk-Nya. Ayat Istiwa’ Di antara ayat-ayat Mutasyabihat yang tidak boleh diambil secara zhahirnya adalah firman Allah ta’ala surat Thaha 5 Ayat ini tidak boleh ditafsirkan bawa Allah duduk jalasa atau bersemayam atau berada di atas Arsy dengan jarak atau bersentuhan dengannya. Juga tidak boleh dikatakan bahwa Allah duduk tidak seperti duduk kita atau bersemayam tidak seperti bersemayamnya kita, karena duduk dan bersemayam termasuk sifat khusus benda sebagaimana yang dikatakan oleh al Hafizh al Bayhaqi W. 458 H, al Imam al Mujtahid Taqiyyuddin as-Subki W. 756 H dan al Hafizh Ibnu Hajar W. 852 H dan lainnya. Kemudian kata istawa sendiri dalam bahasa Arab memiliki 15 makna. Karena itu kata istawa tersebut harus ditafsirkan dengan makna yang layak bagi Allah dan selaras dengan ayat-ayat Muhkamat. Berdasarkan ini, maka tidak boleh menerjemahkan kata istawa ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa lainnya karena kata istawa mempunyai 15 makna dan tidak mempunyai padan kata sinonim yang mewakili 15 makna tersebut. Yang diperbolehkan adalah menerjemahkan maknanya, makna kata istawa dalam ayat tersebut adalah qahara menundukkan atau menguasai. Dengan ini diketahui bahwa tidak boleh berpegangan kepada “al Qur’an dan Terjemahnya” yang dicetak oleh Saudi Arabia karena di dalamnya banyak terdapat penafsiran dan terjemahan yang menyalahi aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti ketika mereka menerjemahkan istawa dengan bersemayam, padahal Allah maha suci dari duduk, bersemayam dan semua sifat makhluk. Mereka juga menafsirkan Kursi dalam surat al Baqarah255 dengan tempat letak telapak kaki-Nya, padahal Allah maha suci dari anggota badan, kecil maupun besar, seperti ditegaskan oleh al Imam ath-Thahawi dalam al Aqidah ath-Thahawiyyah. Al Imam Ali –semoga Allah meridlainya- mengatakan “Sesungguhnya Allah menciptakan Arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”. Maka ayat tersebut di atas surat Thaha 5 boleh ditafsirkan dengan qahara menundukkan dan menguasai yakni Allah menguasai Arsy sebagaimana Dia menguasai semua makhluk-Nya. Karena al Qahr adalah merupakan sifat pujian bagi Allah. Dan Allah menamakan dzat-Nya al Qahir dan al Qahhar dan kaum muslimin menamakan anak-anak mereka Abdul Qahir dan Abdul Qahhar. Tidak seorangpun dari umat Islam yang menamakan anaknya Abd al jalis al jalis adalah nama bagi yang duduk. Karena duduk adalah sifat yang sama-sama dimiliki oleh manusia, jin, hewan dan malaikat. Penafsiran di atas tidak berarti bahwa Allah sebelum itu tidak menguasai arsy kemudian menguasainya, karena al Qahr adalah sifat Allah yang azali tidak mempunyai permulaan sedangkan arsy adalah merupakan makhluk yang baru yang mempunyai permulaan. Dalam ayat ini, Allah menyebut arsy secara khusus karena ia adalah makhluk Allah yang paling besar bentuknya. Riwayat yang Sahih dari Imam Malik tentang Ayat Istiwa’ Al Imam Malik ditanya mengenai ayat tersebut di atas, kemudian beliau menjawab Maknanya “Dan tidak boleh dikatakan bagaimana dan al kayf /bagaimana sifat-sifat benda mustahil bagi Allah”. diriwayatkan oleh al Hafizh al Bayhaqi dalam kitabnya al Asma wa ash-Shifat Maksud perkataan al Imam Malik tersebut, bahwa Allah maha suci dari semua sifat benda seperti duduk, bersemayam dan sebagainya. Sedangkan riwayat yang mengatakan wal Kayf Majhul adalah tidak benar. Penegasan Imam Syafi’i tentang Orang yang Berkeyakinan Allah duduk di atas Arsy Ibn al Mu’allim al Qurasyi W. 725 H menyebutkan dalam karyanya Najm al Muhtadi menukil perkataan al Imam al Qadli Najm ad-Din dalam kitabnya Kifayah an-Nabih fi Syarh at-Tanbih bahwa ia menukil dari al Qadli Husayn W. 462 H bahwa al Imam asy-Syafi’I menyatakan kekufuran orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas arsy dan tidak boleh shalat makmum di belakangnya. Ulama Ahlussunnah yang Mentakwil Istiwa’ Kalangan yang mentakwil istawa dengan qahara adalah para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah. Di antaranya adalah al Imam Abdullah ibn Yahya ibn al Mubarak W. 237 H dalam kitabnya Gharib al Qur’an wa Tafsiruhu, al Imam Abu Manshur al Maturidi al Hanafi W. 333 H dalam kitabnya Ta’wilat Ahlussunnah Wal Jama’ah, az-Zajjaj, seorang pakar bahasa Arab W. 340 H dalam kitabnya Isytiqaq Asma Allah, al Ghazali asy-Syafi’i W. 505 H dalam al Ihya, al Hafizh Ibn al Jawzi al Hanbali W. 597 H dalam kitabnya Daf’u Syubah at-Tasybih, al Imam Abu Amr ibn al Hajib al Maliki W. 646 H dalam al Amaali an-Nahwiyyah, Syekh Muhammad Mahfuzh at-Termasi al Indonesi asy-Syafi’i W. 1285-1338 H dalam Mawhibah dzi al Fadll, Syekh Muhammad Nawawi al Jawi al Indonesi asy-Syafi’i W. 1314 H-1897 dalam kitabnya at-Tafsir al Munir dan masih banyak lagi yang lainnya. Inkonsistensi Orang yang Memahami Ayat Istiwa’ secara Zhahirnya Dan orang yang mengambil ayat mutasyabihat ini secara zhahirnya, apakah yang akan ia katakan tentang ayat 115 surat al Baqarah Jika orang itu mengambil zhahir ayat ini berarti maknanya “ke arah manapun kalian menghadap, di belahan bumi manapun, niscayaAllah ada di sana”. Dengan ini berarti keyakinannya saling bertentangan. Akan tetapi makna ayat di atas bahwa seorang musafir yang sedang melakukan shalat sunnah di atas hewan tunggangan, ke arah manapun hewan tunggangan itu menghadap selama arah tersebut adalah arah tujuannya maka – فثم وجه الله – di sanalah kiblat Allah sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid W. 102 H murid Ibn Abbas. Takwil Mujahid ini diriwayatkan oleh al Hafizh al Bayhaqi dalam al Asma’ Wa ash-Shifat. This entry was posted on 26 December 2009 at 429 am and is filed under Aqidah. You can follow any responses to this entry through the RSS feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Allah ta’ala berfirman “Dia Allah tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya baik dari satu segi maupun semua segi, dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya”. as-Syura 11 Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam makhluk Allah terbagi atas dua bagian; yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil para ulama menyebutnya dengan al Jawhar al Fard, dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian jisim. Benda yang terakhir ini terbagi menjadi dua macam; Benda Lathif. sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, ruh, angin dan Katsif. sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya. Adapun sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta’ala tidak menyerupai makhluk-Nya, bukan merupakan al Jawhar al Fard, juga bukan benda Lathif atau benda Katsif. Dan Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak yang serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti ia memiliki dimensi panjang, lebar dan kedalaman. Sedangkan sesuatu yang demikian, maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut. Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam bersabda “Allah ada pada azal keberadaan tanpa permulaan dan belum ada sesuatupun selain¬Nya”. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud. Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal keberadaan tanpa permulaan, tidak ada sesuatu selain-Nya bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru makhluk. Al Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqh al Absath berkata “Allah ta’ala ada pada azal keberadaan tanpa permulaan dan belum ada tempat, Dia ada sebelum menciptakan makhluk, Dia ada dan belum ada tempat, makhluk dan sesuatu dan Dia pencipta segala sesuatu”. Al Imam Fakhruddin ibn Asakir W. 620 H dalam risalah aqidahnya mengatakan “Allah ada sebelum ciptaan, tidak ada bagi¬Nya sebelum dan sesudah, atas dan bawah, kanan dan kiri, depan dan belakang, keseluruhan dan bagian-bagian, tidak boleh dikatakan “Kapan ada-Nya ?”, “Di mana Dia ?” atau “Bagaimana Dia ?”, Dia ada tanpa tempat”. Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah. Al Imam al Bayhaqi W. 458 H dalam kitabnya al Asma wa ash- Shifat, hlm. 506, mengatakan “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah shalllallahu alayhi wa sallam “Engkau azh-Zhahir yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya, tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin yang tidak dapat dibayangkan tidak ada sesuatu di bawah¬Mu” Muslim dan lainnya. Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat”. Hadits Jariyah Sedangkan salah satu riwayat hadits Jariyah yang zhahirnya memberi persangkaan bahwa Allah ada di langit, maka hadits tersebut tidak boleh diambil secara zhahirnya, tetapi harus ditakwil dengan makna yang sesuai dengan sifat-sifat Allah, jadi maknanya adalah Dzat yang sangat tinggi derajat-Nya sebagaimana dikatakan oleh ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah, di antaranya adalah al Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim. Sementara riwayat hadits Jariyah yang maknanya shahih adalah Al Imam Malik dan al Imam Ahmad meriwayatkan bahwasanya salah seorang sahabat Anshar datang kepada Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam dengan membawa seorang hamba sahaya berkulit hitam, dan berkata “Wahai Rasulullah sesungguhnya saya mempunyai kewajiban memerdekakan seorang hamba sahaya yang mukmin, jika engkau menyatakan bahwa hamba sahaya ini mukminah maka aku akan memerdekakannya, kemudian Rasulullah berkata kepadanya Apakah engkau bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah? Ia budak menjawab “Ya”, Rasulullah berkata kepadanya Apakah engkau bersaksi bahwa saya adalah Rasul utusan Allah? Ia menjawab “Ya”, kemudian Rasulullah berkata Apakah engkau beriman terhadap hari kebangkitan setelah kematian? ia menjawab “Ya”, kemudian Rasulullah berkata Merdekakanlah dia”. Al Hafizh al Haytsami W. 807 H dalam kitabnya Majma’ al- Zawaid Juz I, hal. 23 mengatakan “Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi shahih”. Riwayat inilah yang sesuai dengan prinsip-prinsip dan dasar ajaran Islam, karena di antara dasar-dasar Islam bahwa orang yang hendak masuk Islam maka ia harus mengucapkan dua kalimat syahadat, bukan yang lain. Sumber Buku “Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah” yang diterbitkan Lembaga LITBANG Syabab Ahlussunnah Wal Jama’ah SYAHAMAH 2003.
allah ada tanpa tempat